Apakah Realitas yang Kita Alami Hanya Ilusi? - Rivaldyalfi

Sejauh ini, kita telah meyakini bahwa segala peristiwa dalam kehidupan kita begitu konkret, serta yakin bahwa kita dan orang lain sama-sama sadar akan semua yang terjadi dalam dunia yang kita jalani.
Namun, bagaimana mungkin kita dapat mengonfirmasi keberadaan nyata dari dunia di sekitar kita? Apakah ini benar-benar realitas, atau hanya simulasi kompleks yang diciptakan untuk menipu persepsi kita? Ada kemungkinan bahwa apa yang kita alami hanyalah hasil dari manipulasi digital, sebuah program canggih yang membuat kita percaya bahwa ada realitas di luar sana.
Pernahkah Anda melintasi pikiran tentang kemungkinan bahwa realitas yang kita alami mungkin bukanlah realitas sejati? Ada spekulasi bahwa kita mungkin saja menjadi bagian dari sebuah simulasi canggih yang dikelola oleh peradaban yang lebih maju daripada kita.
Bagaimana jika selama ini kita hanya ada dalam sebuah simulasi komputer, mirip dengan konsep yang diangkat dalam film The Matrix? Dalam skenario ini, eksistensi kita mungkin bukanlah suatu kenyataan mutlak, melainkan bagian dari simulasi yang diatur oleh program komputer.
Konsep bahwa kita mungkin hidup dalam sebuah simulasi menggambarkan kemungkinan adanya entitas atau kekuatan di luar diri kita yang mempengaruhi dan mengatur kehidupan kita, mirip dengan cara permainan The Sims mengendalikan karakter di dalamnya.
Memang, gagasan ini mungkin terdengar seperti plot dari cerita fiksi ilmiah, namun yang menarik adalah bahwa topik ini telah menjadi bahan diskusi sejak zaman kuno. Ini adalah salah satu tema terdalam dalam dunia pemikiran manusia, yang telah diperdebatkan selama ribuan tahun dalam sejarah filsafat. Meskipun telah lama dibahas, pertanyaan apakah realitas kita merupakan simulasi tetap belum terjawab secara pasti hingga saat ini.
Hipotesis Simulasi
Sebelum memasuki substansi pembahasan, mari kita bahas terlebih dahulu konsep hipotesis simulasi, karena konsep ini menjadi pokok dari pembahasan yang sedang kita bahas saat ini.
Suatu gagasan yang dikenal sebagai hipotesis simulasi menyatakan bahwa realitas yang kita alami, termasuk diri kita sendiri, orang lain, dan semua objek di sekitar kita, mungkin merupakan bagian dari simulasi komputer yang sangat canggih. Menurut hipotesis ini, kita mungkin tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi apakah kita benar-benar ada dalam simulasi tersebut.
Karenanya, kita eksis dalam ranah maya, tidaklah sebagai entitas yang mutlak, sebagaimana yang kita kira.
Kehadiran dan kenyataan kita, yang mungkin diprogram dan dikendalikan oleh entitas di luar diri kita, terdengar kompleks dan fantastis. Meskipun terkesan seperti premis cerita dari film The Matrix, hal ini memunculkan pertanyaan mendalam tentang sifat realitas kita..
Dalam cerita film tersebut, disampaikan bahwa manusia telah mengalami kepunahan dalam konteks yang kita kenal. Namun, dalam dunia tersebut, kehidupan manusia dikuasai oleh sebuah ras robot. Manusia-manusia tersebut disimpan dalam tabung-tabung yang memungkinkan mereka merasakan berbagai sensasi dalam pikiran mereka sendiri. Energi yang dihasilkan dari aktivitas mental atau pikiran manusia digunakan oleh rezim robot untuk menjalankan pemerintahan mereka.
Terdapat pertanyaan yang umumnya muncul: "Bagaimana mekanisme yang melandasi realitas simulasi?" Tentu saja, realitas simulasi harus dijelaskan melalui mekanisme yang menjalankannya. Dalam dunia kita, terdapat dua skenario utama yang menjelaskan bagaimana sistem simulasi beroperasi.
Pada skenario awal, gagasan ini menyiratkan bahwa semua entitas, termasuk individu, lingkungan, benda, peristiwa, dan pengalaman, dianggap sebagai hasil dari proses kode tertentu.
Dalam konteks ini, penyiapan skenario membutuhkan infrastruktur keras yang sangat canggih untuk mengakomodasi simulasi semua komponen yang terlibat, termasuk aspek fisika yang telah diketahui pada skala intergalaksi dengan tingkat detail yang luar biasa. Metafora tentang realitas dalam kerangka simulasi dapat dipahami sebagai suatu sistem yang kompleks, mirip dengan program dunia terbuka yang berjalan pada perangkat superkomputer atau komputer kuantum yang jauh melampaui kapasitas pengertian kita.
Dalam situasi kedua, kita menghadapi gagasan bahwa meskipun kita sebagai individu manusia mungkin nyata dan organik, lingkungan kita dan bahkan sebagian dari individu di sekitar kita mungkin merupakan bagian dari sebuah simulasi. Untuk memperdaya kesadaran kita dalam skenario ini, kita harus membuat pikiran kita meyakini bahwa apa yang kita alami adalah realitas yang sebenarnya. Sensasi yang kita alami harus terasa autentik, dan karakteristik manusia yang disimulasikan harus mampu melewati uji Turing. Selain infrastruktur komputasi yang sangat canggih, skenario ini juga memerlukan tingkat kecerdasan buatan yang kompleks agar dapat meyakinkan pikiran manusia tentang keasliannya.
Teori simulasi dalam konteks kedua ini mencerminkan tema yang serupa dengan yang diperlihatkan dalam film The Matrix, yang mengilustrasikan sebuah dunia yang hancur setelah apokalips, di mana robot-ras telah menawan mayoritas populasi manusia dan memaksa mereka hidup dalam realitas buatan yang dikenal sebagai Matrix.
Di dalam film, diceritakan bahwa manusia sehari-hari tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya hidup dalam sebuah simulasi, di mana energi panas tubuh manusia dan energi elektrokimia dipanen. Ini terjadi melalui kabel yang terhubung langsung ke neokorteks mereka, mengirimkan sinyal ke otak untuk membaca respons mereka tanpa disadari oleh para subjek.
Untuk mencapai tujuan tersebut, kita dapat memanfaatkan teknologi realitas visual (VR) atau antarmuka komputer otak yang canggih. Melalui VR, pengguna dapat mengalami citra yang sangat realistis, sedangkan antarmuka komputer otak mampu mengirimkan sinyal langsung ke otak untuk menstimulasi masukan sensorik seperti penglihatan. Selain itu, pemahaman yang lebih dalam tentang kesadaran manusia dan mekanisme kerjanya diperlukan untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) yang lebih menyadari dirinya sendiri dan mampu menciptakan karakter manusia yang realistis.
Meskipun mengharuskan penerapan teknologi masa depan, gagasan bahwa alam semesta dan realitas merupakan simulasi bukanlah konsep baru. Bahkan, jejak ide ini dapat ditelusuri kembali hingga sekitar dua milenium yang lalu, terutama dalam alegori Gua Plato pada abad keempat sebelum Masehi.
Sebuah analogi gua dapat diceritakan sebagai kisah tentang sekelompok individu yang telah dipenjara sepanjang hidup mereka di dasar gua yang gelap. Mereka terikat dengan erat, tidak mampu melihat apa pun di sekitar gua atau bahkan satu sama lain; bahkan diri mereka sendiri tidak dapat mereka lihat. Mereka hanya menyadari adanya dinding di depan mereka, tidak ada yang lain, kecuali bayangan-bayangan yang terlihat, serta api di belakang mereka, dengan sebuah jalan di antara api dan tahanan. Saat objek bergerak melintasi jalan itu, bayangan objek tersebut terpantul di dinding gua. Karena tahanan tak tahu apa pun selain bayangan tersebut, mereka menganggap bayangan itu sebagai satu-satunya realitas.
Pada suatu waktu, tanpa alasan yang jelas, para tahanan itu berhasil membebaskan diri dan melarikan diri dari gua. Saat mereka keluar, mereka menyadari betapa dunia di luar gua berbeda dari bayangan-bayangan yang selama ini mereka lihat. Mereka mulai menyadari bahwa kenyataan tidak hanya terdiri dari bayangan yang terpantul di dinding, melainkan juga benda-benda nyata yang terlihat berkat sinar matahari atau api. Mereka menyadari bahwa sumber cahaya tersebut memungkinkan segalanya terlihat dengan jelas.
Pada titik ini, para tahanan mulai menyadari bahwa apa yang sebelumnya mereka anggap sebagai kenyataan, yaitu bayangan yang terlihat di dinding, sebenarnya tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya. Ini adalah suatu bentuk simulasi, sebuah konstruksi ilusi dari realitas.
Kita dapat melihat bahwa gagasan tentang kenyataan hidup sebagai simulasi telah dikenal sejak zaman Plato melalui alegori guanya.
Sejak zaman Plato, manusia telah mengajukan pertanyaan apakah eksistensi dan realitas kehidupan manusia sebenarnya nyata, ataukah hanya merupakan ilusi yang diciptakan oleh entitas lain di luar kita. Selain itu, alegori guenya Plato dapat dipahami sebagai sebuah perumpamaan tentang pentingnya pengetahuan, atau sebagai simbol kebodohan dan keengganan manusia dalam mencari kebenaran tentang realitas hidup mereka. Bahkan, dapat diinterpretasikan sebagai gagasan bahwa realitas yang tampak nyata bagi satu kehidupan dapat menjadi bayangan bagi kehidupan lainnya.
Pada abad ke-17, tidak hanya Plato yang mempertanyakan realitas. René Descartes, seorang filsuf terkemuka pada masanya, juga meragukan tidak hanya dunia luar tetapi juga eksistensinya sendiri. Descartes bahkan mengeksplorasi gagasan bahwa segala sesuatu yang kita anggap nyata, yang kita amati, dan kita rasakan mungkin saja merupakan ilusi yang dibuat oleh entitas superintelek.
Descartes mempertanyakan dengan keraguan yang mendalam, apakah kita dapat memastikan bahwa benda-benda yang kita amati dan kita ketahui sebagai bagian dari dunia yang ada di luar diri kita, seperti meja, kursi, dan barang-barang sehari-hari, bukanlah sekadar ilusi yang diciptakan oleh entitas yang amat cerdas. Pertanyaan ini menjadi sorotan penting bagi Descartes.
Dari segi logika dan pengalaman sehari-hari, terlihat tidak masuk akal jika kita menganggap bahwa dunia ini hanya ilusi. Kita dapat berinteraksi dengan dunia ini secara konsisten, mengamati hasil-hasil yang selalu sama. Misalnya, jika kita menyentuh api, kita akan terbakar dan merasakan panas, sebuah fenomena yang konsisten di setiap situasi.
Namun, yang menjadi perhatian Descartes adalah pertanyaan mendasar tentang realitas, yang tidak boleh dilupakan bahwa Descartes memiliki latar belakang sebagai seorang ilmuwan matematika. Dari perspektif matematikawan ini, Descartes merasa tidak cukup hanya dengan fakta-fakta empiris atau kemungkinan-kemungkinan yang mungkin kita alami. Ia menginginkan sesuatu yang pasti dan tidak diragukan. Dengan demikian, Descartes bertekad untuk menemukan bukti yang meyakinkan tentang keberadaan dunia luar, yang bukan sekadar ilusi atau konsepsi semata.
Descartes memperlihatkan pendekatannya dengan mempertanyakan segala sesuatu secara mendalam. Dia tidak mengambil begitu saja keberadaan dunia luar, seperti meja, kursi, atau bahkan YouTube, tanpa melalui proses peninjauan yang hati-hati. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai kesangsian metodis, melibatkan sikap skeptis terhadap segala sesuatu sebagai bagian dari metodenya untuk mencapai kesimpulan yang kuat tentang keberadaan dunia di luar kita.
Melalui suatu proses pertimbangan yang mendalam, Descartes akhirnya mencapai suatu kesimpulan yang kokoh, yaitu bahwa keberadaan dirinya sebagai pengamat adalah hal yang tak terbantahkan. Ia menyadari bahwa tidak mungkin ia bisa meragukan segala sesuatu jika dirinya sendiri tidak ada untuk meragukan atau mengamati. Dengan demikian, terdapat satu kebenaran mendasar yang tidak dapat dipertanyakan, bahkan jika seluruh dunia ini adalah ilusi, yaitu keberadaan diri yang merasakan dan meragukan segala hal yang ada.
Dari sudut pandang ini, Descartes secara erat terhubung dengan prinsip "Cogito Ergo Sum" yang menyatakan bahwa "Saya berpikir, maka saya ada". Namun, prinsip ini hanya menyelesaikan sebagian dari persoalan. Descartes belum dapat membuktikan keberadaan dunia di luar pikiran kita. Ia hanya membuktikan keberadaan dirinya sendiri sebagai subjek yang berpikir, tanpa dapat membuktikan keberadaan orang lain. Melalui metode keraguannya, kita hanya bisa yakin akan tindakan yang dilakukan oleh Descartes sendiri. Pada akhirnya, satu-satunya kepastian yang tersisa adalah keberadaan "saya" atau "dirinya sendiri", yang menyaksikan segalanya. Namun, keberadaan orang lain tidak dapat dipastikan melalui metode ini.
Dari upaya pemikiran separuh jalan yang ditempuh oleh Descartes, muncul suatu pandangan yang dikenal sebagai Solipsisme. Solipsisme menyatakan bahwa seluruh realitas di dunia ini hanya merupakan manifestasi dari "Aku" dan pikiran subjektifku. Entitas lain, termasuk individu lain, hanya ada sebagai konstruksi pikiran saya. Oleh karena itu, keberadaan individu lain menjadi tidak relevan, karena yang ada hanyalah pikiran saya tentang keberadaan mereka. Meskipun Descartes mengemukakan problematika tentang keberadaan dunia yang independen dari kesadaran subjektif, dia tidak berhasil memberikan penyelesaian yang memuaskan atas permasalahan tersebut.
Jadi, keseluruhan fenomena ini masih menyimpan misteri. Analogi yang sering digunakan adalah kisah sehelai daun yang jatuh dari pohon di tengah hutan yang tak berpenghuni. Pertanyaannya adalah apakah daun tersebut benar-benar jatuh jika tak ada seorang pun yang mendengar, melihat, atau mengetahuinya. Analogi ini mencerminkan permasalahan yang diutarakan oleh Descartes, bahwa eksistensi dunia masih belum dapat dipastikan secara mutlak. Meskipun kita mungkin mengajukan argumen bahwa keberadaan dunia dapat dipercaya karena dapat disentuh atau dilihat, Descartes dapat menggugat hal tersebut dengan mempertanyakan, "Apakah objek tersebut ada secara terpisah tanpa keberadaanku sebagai pengamat?" Dengan demikian, semua terpusat pada kesadaran subjektif yang mengamati fenomena sebagai sesuatu yang ada.
Super Komputer
Pada era kontemporer, gagasan tentang hipotesis simulasi kembali mencuat kembali setelah abad ke-21, khususnya pada tahun 2003, melalui tulisan seorang filsuf dari Oxford, Nick Bostrom. Dalam makalahnya yang berjudul "Are You Living in a Computer?", Bostrom mengeksplorasi tiga kemungkinan realitas yang mungkin kita alami. Pertama, adalah kemungkinan bahwa realitas ini adalah nyata dan kita secara langsung mengalaminya. Kedua, adalah kemungkinan kita mengalami ilusi mirip dengan narasi dalam film The Matrix, di mana kita mungkin terhubung ke suatu entitas yang menciptakan simulasi yang kita alami. Dan ketiga, adalah kemungkinan bahwa kita hidup di dalam simulasi yang dijalankan oleh entitas superior yang memiliki kemampuan teknologi jauh melampaui pemahaman dan kemajuan kita.
Nick menonjol dibandingkan dengan para pendahulunya karena pendekatannya yang unik terhadap isu AI. Dalam karyanya, ia menekankan pentingnya untuk merujuk pada penelitian terbaru dalam bidang kecerdasan buatan. Nick membangun argumennya dengan mengajukan sebuah wawasan yang menarik: dalam beberapa dekade mendatang, AI mungkin akan mencapai tingkat kompleksitas di mana kita mampu menciptakan entitas AI yang sadar, bukan sekadar sebagai alat pemrosesan data mekanis seperti yang kita kenal saat ini. Dia menggambarkan visi di mana AI memiliki kesadaran dirinya sendiri, mampu merespons dunia dengan otonomi serupa dengan manusia.
Menurut Nick, dalam konteks peradaban yang telah mencapai tingkat kemajuan teknologi AI yang luar biasa, ada potensi bagi kita untuk mempertanyakan esensi keberadaan kita. Ideanya menyiratkan bahwa dengan tingkat kemajuan AI yang sedemikian rupa, muncul pertanyaan apakah kita sebagai manusia sejati atau hanya sebuah simulasi yang diciptakan oleh entitas non-manusia. Dalam pandangan ini, kita mungkin hanya merupakan kesadaran yang dihasilkan melalui proses machine learning yang dikelola oleh kekuatan atau entitas yang tak terlihat di balik jaringan realitas kita.
Nick tidak sendirian dalam pemikiran ini, karena Profesor filsafat David Chalmers dari Universitas New York juga mengembangkan ide tersebut. Chalmers memperluas gagasan Nick dengan menggambarkan entitas yang lebih tinggi, yang bertanggung jawab atas potensi simulasi hyper realistic ini, sebagai pemrogram di alam semesta berikutnya. Mungkin entitas ini dapat kita anggap sebagai Dewa, meskipun tidak dalam pengertian tradisional. Menariknya, Chalmers melihat entitas ini sebagai sosok yang mungkin memiliki pemahaman dan kekuasaan yang luar biasa atas dunia kita, seperti seorang yang maha tahu. Implikasinya, menurut Nick dan Chalmers, adalah bahwa realitas di sekitar kita memiliki kemungkinan besar adalah simulasi. Jika kita dapat menciptakan kecerdasan buatan yang menyamai manusia, tidak ada alasan untuk tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa kita sendiri diciptakan oleh entitas yang lebih cerdas, yang kemudian menciptakan kita, yang awalnya mungkin seperti robot dan kemudian berevolusi menjadi entitas yang mampu berpikir sendiri, memiliki kesadaran, dan kehidupan seperti manusia yang kita alami saat ini.
Jika Anda berada di sini dengan teman-teman yang senang bermain game seperti Assassin's Creed atau Skyrim, atau game RPG lainnya, Anda mungkin akan menemukan relevansi argumen Nick Bostrom. Game-game semacam itu seringkali menghadirkan dunia virtual yang begitu rinci, di mana bahkan benda-benda di dalamnya memiliki fisik yang terdefinisi. Konsep fisik dalam dunia game mengacu pada sifat-sifat fisik dari objek-objek dalam permainan, termasuk massa mereka.
Jika kita memanfaatkan platform pengembangan permainan seperti Unity, kita akan akrab dengan konsep "bridge body". Ini merujuk pada karakteristik visual yang, saat diterapkan, memberikan aspek fisik pada objek visual tersebut. Sebagai contoh, bridge body dapat memiliki tekstur tertentu dan massa yang ditentukan, serta menanggapi pencahayaan dengan bagian yang bersinar dan yang tidak.
Ini sebenarnya merupakan bagian dari sebuah konsep yang telah lama diterapkan dalam industri game. Khususnya dalam genre RPG, pembuat game biasanya mulai dengan menetapkan aturan fisika yang konsisten untuk seluruh dunia dalam permainan. Dengan begitu, setiap interaksi yang dilakukan oleh pemain akan memengaruhi dunia game secara konsisten, tanpa perlu membuat semua aturan tersebut dari awal setiap kali.
Seperti halnya dalam pengembangan kecerdasan buatan, pada masa lalu, orang cenderung mengimplementasikan kecerdasan buatan dalam permainan secara mekanis dengan aturan-aturan dan interaksi yang terbatas, sehingga mudah untuk diatasi. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, kecerdasan buatan dalam permainan telah berkembang pesat, mampu merespons dan bahkan belajar dari interaksi dengan pemain.
Apabila kita melakukan sebuah tindakan berulang dalam permainan, kemampuan kecerdasan buatan (AI) di dalamnya dapat mempelajari pola tersebut dan mengembangkan strategi baru untuk mengantisipasi langkah kita. Akibatnya, kita mungkin akan terkejut ketika AI tiba-tiba menggunakan strategi yang lebih canggih dan mengalahkan kita. Fenomena ini umum terjadi dalam game saat ini.
Perlu diingat bahwa kita saat ini hanya sampai pada tahap kecerdasan buatan (AI) yang memiliki kapasitas kognitif, namun belum mencapai kesadaran diri yang mandiri. Dalam skenario di mana AI berkembang secara signifikan, mampu berpikir, berimajinasi, bahkan menciptakan permainannya sendiri, tidak ada jaminan bahwa kita sebagai manusia bukan hasil ciptaan entitas lain di luar pemahaman kita. Dengan argumentasi dari Nick dan kemajuan simulasi permainan yang semakin realistis, sulit untuk menemukan alasan mengapa kemungkinan simulasi kehidupan kita tidak mungkin terjadi. Selain itu, siapa yang dapat memastikan bahwa dunia yang kita percayai sebagai kenyataan bukanlah simulasi? Sampai saat ini, belum ada bukti yang dapat meyakinkan untuk menolak hipotesis simulasi ini.
Hipotesis simulasi semakin mendapat perhatian sejak tahun 2016 ketika Elon Musk, CEO dari Tesla dan SpaceX, secara tegas menyatakan dalam sebuah konferensi kode bahwa "kemungkinan kita hidup dalam suatu simulasi hanyalah satu banding miliar". Untuk mendukung hipotesis ini, Elon menyoroti perkembangan video game yang telah mencapai tingkat di mana grafiknya hampir tidak dapat dibedakan dari realitas. Jika kita hanya ingin menunjukkan seberapa mungkin atau seberapa kecil kemungkinan hipotesis simulasi ini, itu bisa dilakukan dengan mudah. Kita berinteraksi dengan dunia sekitar kita dengan sangat mulus, tanpa kejadian aneh atau kesalahan seperti yang sering terjadi dalam permainan video, di mana kita sering melihat glitch atau kesalahan dalam pemrograman yang menyebabkan hal-hal yang tidak wajar terjadi.
Kejadian seperti ini jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita karena biasanya segala sesuatu berjalan lancar seperti biasa. Namun, ada sebuah indikasi yang cukup meyakinkan jika kita hidup dalam simulasi, yaitu fenomena Glitch in the Matrix. Salah satu contoh Glitch dalam realitas kita adalah Deja vu, yang merupakan pengalaman aneh ketika kita merasa familiar dengan suatu tempat atau situasi meskipun sebelumnya tidak pernah mengalaminya secara langsung. Walaupun banyak ilmuwan meyakini bahwa Deja vu hanyalah gangguan neurologis dalam otak, ada juga pandangan yang menganggapnya sebagai bukti adanya keanehan dalam realitas kita. Ini menyiratkan bahwa simulasi kita mungkin mengalami gangguan sementara yang menyebabkan suatu peristiwa yang seharusnya terjadi pada waktu tertentu menjadi terjadi pada waktu yang lain.
Kejadian di mana orang-orang yang berpakaian sesuai dengan era masa lalu dan membawa handphone tertangkap kamera telah menambah bukti terjadinya fenomena glitch di alam semesta ini. Hal ini menambah kompleksitas pada pembahasan tentang apakah kita hidup dalam simulasi atau tidak. Meskipun pendapat mayoritas masih menolak gagasan bahwa realitas kita adalah simulasi, namun tidak ada bukti yang meyakinkan atau argumen yang sepenuhnya rasional untuk menyangkal kemungkinan tersebut. Bahkan, hipotesis simulasi yang diajukan oleh Nick menunjukkan struktur kausal yang kuat, dengan adanya hierarki penyebab yang terstruktur. Konsep hierarki penyebab ini memberikan landasan bagi pemahaman kita tentang alam semesta ini.
Hirarki Kausalitas
Sebagai manusia, kita menafsirkan keberadaan kita di dunia ini dengan memperhatikan adanya kondisi-kondisi yang penting, seperti komposisi biologis yang memungkinkan kelangsungan spesies manusia. Proses evolusi telah membentuk komposisi biologis ini, namun ternyata bergantung pada sifat-sifat tertentu dari unsur kimia dalam alam semesta. Sebagai contoh, jumlah oksigen di atmosfer bumi dan sifat-sifatnya yang khas, seperti kemampuannya membawa karbon, mendukung keberadaan manusia. Jika sifat-sifat kimia ini berubah, maka kelangsungan hidup manusia pun terancam. Jadi, realitas biologis manusia didasari oleh realitas kimia, yang pada gilirannya didasarkan pada prinsip-prinsip fisika. Dengan menelusuri hingga ke tingkat subatomik, kita dapat memahami bahwa sifat-sifat oksigen, misalnya, berasal dari sifat-sifat partikel subatomik yang membentuknya.
Maka dapat disimpulkan bahwa fenomena kimia dapat dijelaskan oleh prinsip-prinsip dasar dalam fisika. Namun, penting untuk diingat bahwa prinsip-prinsip fisika sendiri bergantung pada prinsip-prinsip matematika yang mendasarinya. Dengan demikian, kita menyadari bahwa realitas fisika tidaklah merupakan landasan yang absolut, tetapi bergantung pada fondasi yang lebih mendasar, yaitu hukum matematika.
Tentunya, kita dapat membayangkan skenario ini dengan menggunakan imajinasi. Misalkan saja, jika hukum penjumlahan hanya berlaku hingga sejumlah tertentu, namun melebihi batas tersebut akan mengubahnya menjadi hukum pengurangan atau pembagian. Jika situasi semacam ini benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat merusak bagi keseluruhan realitas fisik. Fenomena ini mungkin sulit dipahami karena hukum fisika kita bergantung pada struktur matematis yang stabil dan konsisten.
Jika struktur matematika mengalami perubahan, dampaknya akan terasa pada hukum fisika. Namun, perlu diingat bahwa struktur matematika sendiri tidaklah paling dasar atau fundamental karena dasarnya semua hukum matematika adalah hukum logika. Logikalah yang menentukan konsep-konsep seperti penjumlahan, perkalian, pengurangan, dan pembagian melalui ketentuan implikasi logis seperti jika p, maka q. Implikasi logis ini merupakan fondasi sejati karena hukum matematika hanya dapat berfungsi dengan baik jika implikasi logisnya tetap konsisten dan berlaku dengan benar.
Jika implikasi logis tidak berfungsi sesuai yang diharapkan dan cenderung berubah-ubah, konsekuensinya, hukum matematika juga akan mengalami perubahan. Inilah alasan mengapa logika menjadi unsur yang paling mendasar dari semua hukum yang tetap.
Jika konsistensi logika hukum terganggu, dampaknya akan merambat ke hukum matematika, menyebabkan ketidakstabilan. Hal ini kemudian berdampak pada hukum fisika, yang pada gilirannya memengaruhi hukum kimia. Ketidakpastian dalam hukum kimia juga akan mengganggu keseimbangan dalam hukum biologi, dan jika hukum biologi terganggu, konsekuensinya dapat mempengaruhi manusia dan lingkungannya secara keseluruhan.
Di sini kita dapat mulai memahami bahwa jika terjadi perubahan mikro di tingkat dasar seperti dalam logika formal, hal itu dapat memiliki dampak yang signifikan bahkan dalam skala besar.
Nick menegaskan bahwa dalam pembuatan komputer untuk menyajikan simulasi realitas, seperti dalam game, langkah awalnya adalah menetapkan proses-proses logis dasar. Proses-proses ini menjadi pondasi bagi pembentukan dunia artifisial atau virtual. Dengan menggunakan bahasa pemrograman, kita dapat menciptakan suatu dunia simulasi di mana semua objek, mulai dari benda-benda langit hingga hukum fisika, direpresentasikan. Proses ini dilakukan melalui logika, karena pengalaman kita terhadap dunia fisik ini bergantung pada prinsip-prinsip logis yang mendasar dan tidak bergantung pada dimensi fisiknya.
Dengan berjalan melalui ranah logika program, serta melihat hasil dari program tersebut, terbentuklah dunia yang tak terpisahkan dari logika. Hierarki pun terbentuk di dalamnya, dan pada tahap akhir, dunia ini bertumpu pada logika secara keseluruhan. Pada titik ini, tidak lagi mungkin membedakan antara dunia yang kita alami dalam kehidupan fisik dan biologis dengan simulasi kehidupan yang dibangun oleh logika program.
Jika kita menganggap dunia dan programnya identik, maka konsekuensinya adalah segala sesuatu yang kita alami sebagai hasil dari suatu kode, atau bahkan sebagai digit biner 0101. Hal menarik terjadi pada tahun 2017, ketika sekelompok peneliti dari University of Washington, dengan latar belakang lintas disiplin ilmu, berhasil menanamkan kode komputer berbahaya ke dalam rantai DNA fisik. Motivasi mereka adalah untuk menyoroti kerentanan komputer yang terlibat dalam sekuensing Gen. Namun, penemuan ini juga secara tidak langsung menggugah pemikiran bahwa apa yang sering kita anggap sebagai realitas biologis, sebenarnya dapat diinterpretasikan sebagai kode komputer.
Mengapa Teori Simulasi Menjadi Penting
Apabila kita memang hidup dalam simulasi, persoalannya adalah mengapa hal ini memiliki relevansi? Meskipun secara langsung tidak akan berdampak pada kehidupan sehari-hari kita jika dunia ini merupakan simulasi komputer. Kita akan tetap menjalani rutinitas seperti biasa, kehidupan akan terus berjalan. Akan tetapi, bila kita benar-benar terperangkap dalam sebuah permainan video yang menuntut kita untuk menyelesaikan misi dan pencapaian tertentu agar bisa melangkah lebih jauh, tentu penting untuk mengetahui jenis permainan apa yang kita mainkan guna meningkatkan peluang kita untuk bertahan dan berkembang.
Di samping itu, kita dapat mengeksplorasi apa yang telah lama menjadi pencarian inti dalam ilmu pengetahuan, yaitu penemuan kebenaran, terutama kebenaran yang berhubungan dengan eksistensi manusia. Jika kita mempertimbangkan kemungkinan bahwa kita berada dalam sebuah simulasi, hal tersebut dapat secara tidak langsung memberikan dukungan pada beberapa konsep dalam fisika teoritis, seperti teori multiverse misalnya. Dalam konteks simulasi, kemungkinan bahwa kita adalah satu-satunya simulasi yang diciptakan oleh entitas di atas kita menjadi tidak terlalu relevan. Mungkin ada banyak realitas simulasi lain di luar sana. Mengapa kita belum menemui atau berinteraksi dengan mahluk asing? Mungkin jawabannya sederhana: kapasitas pemrosesan yang tersedia untuk menjalankan simulasi hanya mencukupi untuk satu peradaban di Bumi, sehingga keberadaan makhluk asing menjadi tidak mungkin atau mereka mungkin jauh lebih canggih daripada manusia dan telah berhasil membebaskan diri dari kungkungan simulasi ini.
Teori simulasi juga mendukung konsep Quantum entanglement. Quantum entanglement adalah sebuah fenomena di mana partikel dapat saling mempengaruhi satu sama lain, bahkan jika terpisah oleh jarak yang sangat besar. Menurut Niels Bohr, salah satu fisikawan terkemuka, alam semesta mungkin tersusun dari data, mirip dengan cara komputer bekerja, dan bukan materi yang terpisah dalam ruang dan waktu. Namun, kita mengalami data tersebut sebagai materi melalui persepsi otak kita. Bohr mengemukakan pandangan ini karena menurut Einstein, tidak ada materi yang bisa melebihi kecepatan cahaya. Menggunakan konsep ruang-waktu, fenomena ini akan tampak tidak mungkin, karena akan memerlukan kecepatan melebihi cahaya untuk mentransfer informasi sedemikian cepatnya. Meskipun demikian, Quantum entanglement terbukti terjadi.
Selain dari argumen yang lebih serius, jika hipotesis simulasi tersebut benar, maka Interpretasi Copenhagen dalam mekanika kuantum juga bisa diterapkan dengan benar. Situasi di mana kucing bisa berada dalam keadaan hidup dan mati secara bersamaan bisa terjadi. Analoginya mirip dengan permainan video di mana hanya kondisi sekitar karakter yang ditampilkan di layar. Jika karakter tidak berada di suatu tempat, misalnya di tempat A, maka kondisi A tidak akan ditampilkan di layar. Kita tidak memiliki pengetahuan tentang kondisi di sana, mirip dengan keadaan lingkungan kita. Jika kita tidak melihat kucing dalam kotak, kita juga tidak akan mengetahui keadaan kucingnya. Selain itu, ada kemungkinan bahwa pengalaman-pengalaman aneh seperti déjà vu yang kita alami adalah akibat dari kesalahan dalam simulasi, mirip dengan glitch dalam permainan. Mungkin saja apa yang selama ini kita anggap sebagai hantu atau setan hanyalah kesalahan dalam simulasi. Pertanyaannya adalah, apakah Anda mulai mempertimbangkan bahwa hidup Anda hanyalah sebuah permainan, atau Anda semakin mantap dalam menjalani hidup untuk menyelesaikan misi dan tujuan yang telah ditetapkan?
Oleh: Rifaldo_Ef
Gabung dalam percakapan