Siapa Sebenarnya Annunaki? - Rivaldyalfi

Annunaki
Rivaldyalfi - Sekitar 2.5 juta tahun - 200.000 tahun SM, Bumi menyaksikan kemunculan salah satu peradaban pertama yang sangat maju. Bangsa Sumeria, nama yang berarti “tanah orang-orang berkepala hitam,” mendiami kawasan yang sekarang dikenal sebagai Irak. Wilayah ini dalam bahasa Yunani disebut Mesopotamia, yang berarti “tanah di antara dua sungai,” merujuk pada lokasi mereka yang strategis di antara Sungai Tigris dan Sungai Efrat. Peradaban ini dikenal karena inovasi dan kemajuan mereka dalam berbagai aspek kehidupan, dan keberadaannya membentang dari sekitar tahun 4500 hingga 1750 SM.
Mesopotamia, atau “tanah di antara dua sungai,” merupakan pusat peradaban kuno yang terdiri dari kota-kota besar seperti Uruk, Ur, dan Lagash. Kota-kota ini memiliki tembok besar yang melindungi mereka dari ancaman luar, dan masing-masing dikelola oleh raja serta imam yang memiliki kekuasaan politik dan religius. Peradaban Sumeria adalah salah satu yang pertama kali mengembangkan sistem penulisan yang kompleks, yang dikenal sebagai tulisan kuneiform.
Bangsa Sumeria adalah pelopor dalam berbagai bidang pengetahuan dan teknologi. Mereka menciptakan sistem penulisan kuneiform yang digunakan untuk mencatat sejarah, hukum, dan sastra. Tulisan kuneiform adalah bentuk tulisan paling awal yang dikenal, dan digunakan di berbagai media seperti tablet tanah liat dan silinder segel.
Selain itu, Sumeria juga terkenal dengan kemajuan dalam pertanian, seperti pengembangan irigasi dan teknik bercocok tanam yang inovatif. Mereka membangun struktur arsitektur monumental, termasuk kuil ziggurat, dan mengembangkan sistem matematika yang mendasari pengukuran waktu dan perhitungan astronomi. Astronomi mereka sangat canggih, dengan pengamatan terhadap pergerakan benda langit dan penciptaan kalender lunar yang akurat.
Peradaban ini juga memiliki sistem pemerintahan terorganisir, di mana raja dan imam memainkan peran penting dalam mengelola negara dan mengarahkan kebijakan. Sistem hukum mereka termasuk Kode Ur-Nammu, salah satu kode hukum tertulis tertua yang dikenal, yang menetapkan aturan untuk berbagai aspek kehidupan sosial dan ekonomi.
Di abad ke-19, banyak penemuan arkeologi penting dilakukan di Korsabat, Irak, yang mengungkapkan warisan Sumeria. Terdapat dua versi utama tentang bagaimana artefak-artefak ini ditemukan. Versi pertama mengisahkan bahwa pada Oktober 1849, seorang arkeolog Inggris yang namanya tidak dicatat menemukan harta karun arkeologi di situs tersebut. Versi kedua mencatat bahwa pada Maret 1843, ilmuwan Prancis Paul Emil Bota memimpin tim yang menemukan sisa-sisa istana Asiria, dengan penemuan penting terjadi pada 23 Maret.
Kedua versi ini sepakat bahwa penggalian tersebut menghasilkan 14 tablet batu yang mengungkapkan kisah-kisah kuno dari peradaban Sumeria. Tablet-tablet ini berisi catatan tentang penciptaan manusia, serta cerita tentang makhluk kuat yang dikenal sebagai Anunnaki—dikenal dalam mitos Sumeria sebagai “yang datang dari surga ke bumi.”
Zecharia Sitchin, seorang antropolog dan penulis, memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman modern tentang Anunnaki. Dalam bukunya yang berjudul "The 12th Planet" yang diterbitkan pada tahun 1976, Sitchin mengajukan teori bahwa Anunnaki adalah makhluk dari planet lain, yaitu Nibiru, yang berada di ujung tata surya. Menurut Sitchin, Nibiru adalah sebuah planet besar dengan oksida besi yang menyebabkan kerusakan lingkungan serius di planet tersebut.
Menurut teori Sitchin, Anunnaki melakukan perjalanan ke Bumi untuk mencari emas, yang mereka butuhkan untuk memperbaiki atmosfer planet mereka dan mendukung teknologi mereka. Sitchin berargumen bahwa Anunnaki mengembangkan teknologi canggih yang memungkinkan mereka melakukan perjalanan antarplanet dan melakukan eksplorasi luar angkasa.
Setelah tiba di Bumi, Anunnaki menemukan bahwa planet ini memiliki banyak emas, sumber daya yang sangat mereka butuhkan. Mereka mendirikan Eridu, kota pertama mereka di Bumi, yang mereka sebut sebagai Stasiun Bumi Satu. Eridu adalah tempat di mana mereka memulai kegiatan pertambangan dan penelitian.
Mereka menciptakan Taman Eden, sebuah taman yang indah dan subur yang dipenuhi dengan berbagai jenis buah dan hewan. Taman ini dikenal dalam mitos sebagai tempat yang indah di mana para Anunnaki menghabiskan waktu mereka. Dalam keyakinan Sumeria, Taman Eden adalah tempat yang mendekati konsep taman surga atau tempat suci yang melambangkan keindahan dan kemakmuran.
Untuk melaksanakan tugas penambangan, Anunnaki membawa dengan mereka ras Igigi, yang bekerja sebagai budak dalam operasi tambang mereka. Dalam perjalanan waktu, para Igigi merasa ditekan dan diperlakukan dengan sangat buruk, menyebabkan mereka memberontak melawan para Anunnaki. Pemberontakan ini merupakan salah satu konflik awal antara ras manusia dan makhluk dari dunia lain, yang digambarkan sebagai perang pertama di Bumi.
Konflik ini menciptakan ketegangan di antara Anunnaki sendiri, dengan beberapa dari mereka, seperti Enlil, berpendapat bahwa manusia harus tetap menjadi budak, sementara yang lain, seperti Enki, berpendapat bahwa manusia layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik.
Sebagai solusi atas masalah tenaga kerja, Anunnaki memutuskan untuk menciptakan manusia melalui rekayasa genetik. Dengan menggabungkan DNA mereka dengan Homo erectus, mereka menciptakan Homo sapiens, yang disebut Adamu dalam teks Sumeria, dan dikenal sebagai Adam dalam tradisi Ibrani. Manusia pertama ini dirancang untuk menjadi pekerja yang cukup cerdas untuk berbagai tugas, tetapi tidak cukup kuat untuk menentang Anunnaki.
Setelah penciptaan manusia, Anunnaki mengajarkan berbagai keterampilan dasar kepada manusia, termasuk berbicara, bersosialisasi, berkebun, menulis, dan membangun. Mereka juga memperkenalkan konsep-konsep seperti sistem hukum dan teknologi, yang kemudian menjadi fondasi bagi peradaban manusia di Bumi.
Dengan bantuan manusia, peradaban Sumeria mengalami kemajuan yang signifikan. Kota-kota besar seperti Uruk, Ur, dan Lagash menjadi pusat aktivitas ekonomi, sosial, dan religius. Manusia bekerja di tambang emas dan melayani berbagai kebutuhan Anunnaki. Peradaban ini dikenal karena kemajuan dalam arsitektur, pertanian, dan astronomi, serta pengembangan sistem pemerintahan yang kompleks.
Namun, seiring berjalannya waktu, konflik internal antara Anunnaki semakin intens. Perselisihan antara Enki dan Enlil mengenai perlakuan terhadap manusia memunculkan ketegangan yang tinggi. Konflik ini mencapai klimaksnya dengan terjadinya banjir besar yang direncanakan oleh Enlil untuk menghancurkan umat manusia.
Dalam mitos Sumeria, banjir besar adalah bencana yang direncanakan untuk menghancurkan manusia yang dianggap terlalu banyak dan sulit dikendalikan. Enki, yang merasa simpatik terhadap manusia, memberi tahu seorang manusia bernama Ziusudra (atau Utnapishtim dalam epos Gilgamesh, dan Nuh dalam Alkitab) untuk membangun sebuah bahtera dan menyelamatkan dirinya serta berbagai spesies hewan dari bencana tersebut.
Setelah banjir besar, peradaban manusia mulai pulih dengan bantuan Anunnaki yang tersisa di Bumi. Namun, hubungan antara manusia dan Anunnaki berubah; manusia mulai lebih mandiri dan Anunnaki semakin jarang terlihat.
Cerita tentang Anunnaki dan peradaban Sumeria adalah campuran antara mitos dan sejarah yang terus menarik perhatian para peneliti dan penggemar sejarah. Meskipun banyak ilmuwan melihat kisah ini sebagai bagian dari mitologi kuno yang kaya, beberapa orang, terinspirasi oleh teori Sitchin, berpendapat bahwa mungkin ada kebenaran yang tersembunyi di balik cerita ini.
Warisan Sumeria tidak dapat disangkal mempengaruhi perkembangan peradaban manusia selanjutnya. Sistem penulisan mereka menjadi dasar bagi banyak peradaban kuno lainnya, dan inovasi teknologi mereka dalam pertanian, arsitektur, dan matematika menjadi fondasi bagi kemajuan di berbagai bidang.
Sumeria juga dikenal melalui berbagai artefak dan prasasti yang ditemukan, yang memberikan wawasan berharga tentang kehidupan sehari-hari mereka, kepercayaan religius mereka, dan struktur sosial mereka. Banyak penemuan ini dipelajari oleh arkeolog dan sejarawan untuk memahami lebih dalam tentang peradaban ini dan kontribusinya terhadap sejarah manusia.
Cerita tentang Anunnaki dan peradaban Sumeria memberikan gambaran yang mendalam tentang bagaimana mitos dan sejarah awal manusia berinteraksi. Peradaban Sumeria adalah salah satu peradaban awal yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia, dan kisah-kisah tentang Anunnaki menggabungkan elemen mitologi, sejarah, dan imajinasi yang menarik.
Melalui penemuan arkeologis, penelitian akademis, dan teori-teori kontemporer, kita dapat lebih memahami bagaimana peradaban ini berkembang dan memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia yang ada saat ini. Kisah Anunnaki adalah bagian dari warisan budaya yang kompleks dan menarik, yang terus mempengaruhi cara kita melihat sejarah dan mitologi.
Daftar Pustaka
Sitchin, Z. (1976). The 12th Planet. Harper & Row.
Kromer, E. (2022). “Mesopotamia: Land Between the Rivers.” Encyclopedia of Ancient Civilizations.
Powell, M. (2019). “Anunnaki: The Mysterious Gods of Ancient Sumer.” Journal of Ancient History.
Jacobsen, T. (1976). The Treasures of Darkness: A History of Mesopotamian Religion. Yale University Press.
Kramer, S. N. (1963). Sumerian Mythology: A Study of Spiritual and Literary Achievement in the Third Millennium B.C.. University of Pennsylvania Press.
Cooper, J. S. (1993). The Curse of Agade. University of Pennsylvania Press.
George, A. R. (1999). The Epic of Gilgamesh. Penguin Classics.
Hak Cipta
*Tidak ada bagian dari artikel ini yang boleh diperbanyak, disimpan dalam sistem pencarian, atau ditransmisikan dalam bentuk apa pun atau dengan cara apa pun, baik elektronik, mekanis, fotokopi, perekaman, atau lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.
Gabung dalam percakapan