Misteri Santet: Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Lengkapnya

Santet masih menjadi misteri di masyarakat. Apakah itu nyata atau sekadar sugesti? Simak penjelasan ilmiah, budaya, dan cara menangkalnya di sini!

Pernahkah kamu mendengar kisah tentang seseorang yang tiba-tiba jatuh sakit tanpa sebab yang jelas? Atau mungkin ada cerita tentang seseorang yang mengalami nasib buruk setelah berselisih dengan orang lain? Banyak yang percaya bahwa ini adalah akibat dari santet, ilmu gaib yang konon bisa mencelakai seseorang dari kejauhan.

Di masyarakat kita, santet bukan sekadar mitos, tetapi bagian dari kepercayaan yang telah ada sejak lama. Namun, apakah santet benar-benar nyata? Ataukah ini hanya sugesti yang muncul akibat ketakutan dan kepercayaan turun-temurun? Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang fenomena santet dari berbagai sudut pandang—budaya, sejarah, agama, hingga perspektif ilmiah.

Pengertian Santet

Secara umum, santet dapat diartikan sebagai suatu bentuk ilmu gaib yang digunakan untuk menyakiti orang lain atau mencelakai mereka, tanpa perlu melakukan kontak fisik secara langsung. Praktik ini sering kali melibatkan pengiriman energi negatif atau kekuatan supernatural yang diduga dapat mempengaruhi kesehatan fisik, mental, atau kesejahteraan seseorang. Dalam masyarakat kita, santet sudah dikenal sejak lama dan sering kali ditemukan dengan berbagai nama yang berbeda-beda di berbagai daerah. Beberapa istilah yang sering digunakan antara lain guna-guna, teluh, atau pelet hitam, yang masing-masing mengacu pada berbagai bentuk praktik dan keyakinan yang berkaitan dengan kekuatan magis ini. Istilah-istilah tersebut mencerminkan tradisi dan budaya lokal yang mendalam, di mana keyakinan akan kemampuan seseorang untuk menyakiti melalui cara-cara tak kasat mata menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, di tengah semua misteri yang melingkupi fenomena ini, pertanyaan yang mendasar muncul: apakah santet ini benar-benar ada dalam arti yang sesungguhnya, ataukah ia hanyalah bagian dari kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun? Munculnya cerita dan mitos yang berkembang seputar santet sering kali sulit untuk dibuktikan secara ilmiah. Diskusi mengenai keberadaan santet sering kali melibatkan berbagai pandangan dan persepsi dari masyarakat, mulai dari pencarian bukti objektif hingga pengalaman subjektif individu yang saling berbagi. Berbagai argumen dapat menciptakan debat panjang tentang realitas dan imajinasi manusia terkait dengan aspek gaib ini, di mana beberapa orang percaya sepenuhnya pada kekuatan tersebut sementara yang lainnya skeptis, menilai santet sebagai hasil dari sugesti atau ketakutan yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, perbincangan mengenai santet bukan hanya sekedar soal kepercayaan, tetapi juga mencakup aspek sosial, psikologis, dan budaya yang menjadi latar belakang praktik-praktik tersebut dalam kehidupan masyarakat.Santet dalam Sejarah dan Budaya

Praktik santet telah ada sejak zaman dahulu dan sering dikaitkan dengan ilmu sihir atau ilmu hitam. Beberapa budaya bahkan memiliki kisah-kisah tentang dukun atau orang yang memiliki kemampuan supranatural untuk mengirimkan energi negatif kepada orang lain. Di Indonesia sendiri, beberapa daerah memiliki kepercayaan kuat terhadap santet, dengan berbagai ritual dan metode yang berbeda.

Kesaksian dan Pengalaman Nyata

Ada banyak sekali kisah yang beredar di masyarakat mengenai individu-individu yang mengaku telah menjadi korban praktik santet. Kisah-kisah ini datang dari berbagai latar belakang, baik dari daerah perkotaan maupun pedesaan, serta mencakup berbagai kelompok usia dan status sosial. Para korban melaporkan bahwa mereka mengalami serangkaian kejadian aneh yang sulit dijelaskan secara logis, sering kali dimulai dengan munculnya gangguan fisik yang tidak biasa. Gejala yang mereka rasakan pun beragam, mulai dari rasa sakit yang berpindah-pindah tanpa sebab yang jelas, tubuh terasa lemah dan lesu secara tiba-tiba, hingga perasaan tercekik atau sesak napas yang datang tanpa ada masalah kesehatan yang terdeteksi sebelumnya.

Beberapa di antara mereka bahkan mengalami penyakit misterius yang tidak kunjung sembuh meskipun telah menjalani berbagai pemeriksaan medis yang komprehensif, termasuk tes laboratorium, pemindaian tubuh, dan konsultasi dengan dokter spesialis. Anehnya, meskipun secara medis mereka dinyatakan sehat atau hanya mengalami keluhan ringan, penderitaan yang mereka rasakan begitu nyata dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, banyak korban mulai merasa frustrasi dan putus asa karena tidak menemukan penjelasan logis atau pengobatan yang efektif untuk mengatasi kondisi mereka. Rasa ketidakberdayaan ini semakin diperparah dengan adanya pengalaman-pengalaman lain yang bersifat lebih metafisik, seperti mimpi buruk yang berulang, sensasi seperti ada yang mengawasi, atau bahkan kehadiran bayangan hitam yang muncul secara tiba-tiba di sekitar mereka.

Selain gejala fisik yang tak terjelaskan, beberapa korban juga mengklaim mengalami fenomena yang lebih ekstrem, seperti munculnya benda-benda asing di dalam tubuh mereka tanpa adanya luka atau proses masuk yang jelas. Benda-benda tersebut bisa berupa paku, rambut, atau serpihan kaca, yang tiba-tiba ditemukan di dalam tubuh mereka melalui pemeriksaan medis atau saat dikeluarkan dengan cara yang tidak biasa. Kejadian semacam ini semakin menambah kepanikan dan ketakutan di dalam diri mereka, karena tidak ada penjelasan medis yang dapat mengungkap bagaimana benda-benda tersebut bisa berada di dalam tubuh mereka. Sensasi aneh seperti ada sesuatu yang bergerak di bawah kulit, nyeri yang tidak wajar, atau rasa tercekik tanpa sebab yang pasti, membuat mereka semakin yakin bahwa ada kekuatan gaib yang mengganggu mereka. Dalam kondisi ini, banyak korban yang akhirnya mencari pertolongan dari para spiritualis, dukun, atau paranormal untuk mendapatkan penjelasan dan penyembuhan dari penderitaan yang mereka alami.

Di sisi lain, selain gangguan fisik, banyak korban juga melaporkan adanya kejadian aneh di sekitar mereka yang tampaknya tidak dapat dijelaskan dengan logika atau akal sehat. Beberapa dari mereka mengalami peristiwa ganjil seperti suara-suara misterius yang terdengar tanpa ada sumber yang jelas, benda-benda yang tiba-tiba bergerak sendiri, atau bahkan perasaan bahwa mereka sedang diawasi oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tak jarang, beberapa korban juga mengalami perubahan suasana hati yang drastis, dari yang semula ceria menjadi mudah marah atau merasa depresi tanpa alasan yang bisa dipahami. Sebagian dari mereka bahkan mengaku kehilangan energi secara tiba-tiba, merasa seolah-olah ada sesuatu yang menyedot semangat hidup mereka, hingga mengalami ketakutan luar biasa di malam hari yang membuat mereka sulit tidur.

Namun, di tengah maraknya laporan mengenai fenomena ini, muncul perdebatan besar di masyarakat mengenai apakah pengalaman yang mereka alami benar-benar disebabkan oleh praktik santet, atau justru ada faktor psikologis dan sugesti yang memainkan peran besar dalam hal ini. Beberapa ahli medis dan psikolog berpendapat bahwa banyak dari kasus-kasus ini sebenarnya bisa dijelaskan dari sudut pandang psikosomatis, yaitu kondisi di mana tekanan emosional, stres, atau trauma tertentu dapat menyebabkan gangguan fisik yang nyata. Faktor budaya dan kepercayaan juga dianggap berpengaruh besar, karena keyakinan terhadap santet dapat memicu efek nocebo, di mana seseorang mulai mengalami gejala-gejala tertentu hanya karena sugesti bahwa dirinya telah dikirim santet.

Perdebatan mengenai santet ini pun semakin kompleks ketika melibatkan berbagai perspektif, baik dari sudut pandang medis, psikologi, maupun kepercayaan tradisional yang sudah mengakar kuat di masyarakat. Sementara para ilmuwan dan dokter berusaha mencari penjelasan berbasis sains, banyak masyarakat yang tetap mempercayai bahwa fenomena ini bukan sekadar gangguan psikologis, melainkan hasil dari kekuatan mistis yang nyata. Perbedaan pandangan ini sering kali menciptakan ketegangan antara rasionalitas dan kepercayaan spiritual, serta menimbulkan pertanyaan yang hingga kini masih belum memiliki jawaban pasti: apakah santet benar-benar ada, ataukah semuanya hanya ilusi yang diciptakan oleh pikiran manusia?

Perdebatan ini pun semakin menarik perhatian berbagai pihak, termasuk akademisi, spiritualis, dan masyarakat umum, yang terus mencoba memahami fenomena ini dari berbagai sudut pandang. Beberapa orang memilih untuk tetap berpegang teguh pada kepercayaan mereka terhadap keberadaan santet dan cara-cara mistis untuk mengatasinya, sementara yang lain berusaha mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh sugesti yang bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik mereka. Hingga kini, fenomena santet masih menjadi topik yang kontroversial dan memicu diskusi panjang tentang batas antara dunia gaib dan ilmu pengetahuan.

Apakah Santet Bisa Dibuktikan?

Dari sudut pandang ilmiah, hingga saat ini tidak ada bukti konkret yang dapat membuktikan keberadaan santet sebagai suatu fenomena yang benar-benar nyata secara fisik. Berbagai penelitian dalam bidang medis, psikologi, dan neurologi menunjukkan bahwa banyak kasus yang dikaitkan dengan santet sebenarnya dapat dijelaskan melalui mekanisme biologis dan psikologis yang sudah dikenal dalam ilmu pengetahuan modern.

Salah satu faktor utama yang sering kali berperan dalam pengalaman seseorang yang merasa terkena santet adalah gangguan psikologis. Gangguan kecemasan, depresi, skizofrenia, atau kondisi psikosomatis dapat menyebabkan seseorang mengalami gejala-gejala seperti rasa sakit misterius, halusinasi, atau perasaan terancam yang tidak memiliki penyebab nyata. Dalam banyak kasus, individu yang percaya bahwa mereka menjadi korban santet sebenarnya sedang mengalami stres berat, trauma, atau tekanan emosional yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk gangguan fisik atau mental.

Selain itu, sugesti juga memainkan peran penting dalam fenomena ini. Ketika seseorang sangat percaya terhadap keberadaan santet dan mendengar cerita-cerita tentang pengalaman orang lain, mereka menjadi lebih rentan terhadap efek nocebo—kebalikan dari efek placebo. Dalam efek nocebo, keyakinan seseorang terhadap suatu hal negatif dapat menyebabkan mereka benar-benar mengalami gejala yang sesuai dengan apa yang mereka percayai, meskipun tidak ada faktor eksternal yang sebenarnya memicu kondisi tersebut. Misalnya, seseorang yang yakin bahwa dirinya telah dikirim santet bisa mulai merasakan sakit, kelemahan, atau gangguan tidur hanya karena pikirannya sendiri yang menciptakan respons tersebut.

Selain faktor psikologis, ada juga kemungkinan bahwa gejala yang dialami oleh seseorang yang menganggap dirinya terkena santet sebenarnya disebabkan oleh penyakit medis yang belum terdiagnosis dengan baik. Beberapa penyakit seperti gangguan autoimun, infeksi kronis, gangguan saraf, atau bahkan defisiensi nutrisi tertentu dapat menimbulkan gejala yang sulit dijelaskan secara langsung, sehingga membuat penderitanya mencari penjelasan lain yang lebih sesuai dengan kepercayaan mereka. Dalam beberapa kasus, diagnosis yang tidak akurat atau kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai juga dapat menyebabkan seseorang lebih mudah menghubungkan kondisi mereka dengan hal-hal supranatural.

Dari perspektif neurosains, persepsi seseorang terhadap kejadian di sekitarnya juga sangat dipengaruhi oleh cara otaknya memproses informasi. Ilusi sensorik, mimpi buruk, atau kondisi seperti sleep paralysis (lumpuh tidur) sering kali dikaitkan dengan pengalaman mistis karena individu yang mengalaminya merasa ada kehadiran makhluk gaib atau mengalami sensasi aneh di tubuh mereka. Padahal, fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai akibat dari gangguan pada siklus tidur dan aktivitas listrik di otak.

Meskipun banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa fenomena santet lebih berkaitan dengan aspek psikologis dan medis daripada hal mistis, keyakinan terhadap praktik ini tetap kuat di banyak budaya. Faktor sosial dan budaya turut memperkuat kepercayaan terhadap santet, di mana cerita-cerita turun-temurun dan pengalaman kolektif membentuk cara pandang seseorang terhadap fenomena yang sulit mereka pahami. Di beberapa masyarakat, santet bukan hanya dianggap sebagai kenyataan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem kepercayaan yang memengaruhi cara orang merespons penyakit atau kesulitan hidup mereka.

Oleh karena itu, daripada langsung menyimpulkan bahwa seseorang benar-benar terkena santet, pendekatan yang lebih rasional adalah dengan mengevaluasi kondisi kesehatan fisik dan mental mereka terlebih dahulu. Konsultasi dengan tenaga medis atau profesional psikologi dapat membantu menemukan akar permasalahan dan memberikan solusi yang lebih efektif daripada mencari bantuan supranatural yang belum terbukti secara ilmiah.

Santet dalam Perspektif Agama

Sebagian agama dan kepercayaan memang mengakui keberadaan ilmu hitam atau sihir serta menawarkan berbagai cara untuk menangkalnya. Dalam Islam, misalnya, konsep sihir disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis, dengan pemahaman bahwa sihir merupakan sesuatu yang nyata, tetapi dilarang dan dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Umat Islam diajarkan untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah sebagai bentuk perlindungan dari gangguan sihir atau energi negatif. Beberapa ayat dalam Al-Qur'an, seperti Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas, sering dianjurkan untuk dibaca sebagai doa perlindungan. Selain itu, rukyah syar’iyyah—proses pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an—sering digunakan sebagai metode untuk menangkal atau menyembuhkan seseorang dari pengaruh sihir.

Dalam agama Kristen, konsep ilmu hitam juga diakui dalam beberapa bagian kitab suci, dan pengikutnya diajarkan untuk mengandalkan doa, iman kepada Tuhan, serta perlindungan dari Roh Kudus sebagai cara untuk melawan kekuatan gelap. Penggunaan doa perlindungan, air suci, serta praktik pengusiran roh jahat atau eksorsisme sering kali dilakukan dalam kasus yang dianggap sebagai gangguan spiritual.

Di sisi lain, dalam tradisi Hindu dan Buddha, terdapat konsep tentang energi negatif yang dapat mengganggu keseimbangan seseorang. Dalam ajaran Hindu, ritual tertentu seperti mantra, doa, atau penggunaan benda-benda suci seperti vibhuti (abu suci) dan rudraksha dipercaya dapat memberikan perlindungan dari pengaruh energi buruk. Sementara itu, dalam ajaran Buddha, praktik meditasi, pembacaan sutra, dan penguatan batin melalui kesadaran diri diajarkan sebagai cara untuk menghindari pengaruh negatif, baik yang berasal dari kekuatan luar maupun dari pikiran sendiri.

Dalam kepercayaan-kepercayaan tradisional, seperti kepercayaan animisme dan spiritualitas lokal, berbagai bentuk ritual, sesajen, atau jimat sering digunakan untuk menangkal ilmu hitam atau energi negatif. Beberapa masyarakat adat percaya bahwa roh leluhur atau kekuatan alam dapat memberikan perlindungan bagi mereka yang mengikuti ajaran dan tradisi leluhur dengan baik.

Meskipun setiap kepercayaan memiliki cara tersendiri dalam menghadapi ilmu hitam, ada kesamaan dalam prinsipnya, yaitu bahwa kekuatan spiritual, doa, dan keimanan dianggap sebagai benteng utama untuk menangkal pengaruh buruk. Terlepas dari perbedaan pandangan tentang ilmu hitam, banyak ajaran agama menekankan bahwa kekuatan batin, pikiran positif, dan kedekatan dengan Tuhan atau energi spiritual yang lebih tinggi dapat memberikan perlindungan terbaik bagi seseorang.

Cara Menangkal dan Menghindari Santet

Jika seseorang merasa terkena santet atau ingin melindungi diri dari pengaruh negatif yang dikaitkan dengan ilmu hitam, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, baik dari sisi spiritual maupun logis. Berikut adalah beberapa cara yang bisa diterapkan:

Meningkatkan Keimanan dan Berdoa Sesuai Keyakinan Masing-Masing

Keimanan yang kuat dapat menjadi pelindung utama dalam menghadapi berbagai bentuk energi negatif, termasuk yang dianggap sebagai santet. Dalam berbagai agama, ada doa-doa dan ritual yang diyakini dapat memberikan perlindungan. Misalnya:

  • Dalam Islam, dianjurkan untuk membaca ayat-ayat perlindungan seperti Surah Al-Falaq, Al-Nas, dan Ayat Kursi. Selain itu, rukyah syar’iyyah sering digunakan untuk menangkal gangguan gaib.
  • Dalam Kristen, doa perlindungan, membaca Mazmur tertentu, serta penggunaan air suci diyakini dapat membantu menangkal pengaruh negatif.
  • Dalam Hindu dan Buddha, pembacaan mantra, meditasi, serta penggunaan benda-benda suci seperti rudraksha atau dupa sering kali dipercaya dapat menangkal energi buruk.
  • Dalam kepercayaan tradisional, ritual adat atau penggunaan jimat dan sesajen tertentu sering dilakukan untuk melindungi diri dari ilmu hitam.

Menghindari Pikiran Negatif yang Dapat Memperkuat Sugesti Buruk

Keyakinan seseorang terhadap santet bisa menciptakan efek nocebo, yaitu ketika seseorang mengalami gejala karena sugesti negatif yang kuat. Oleh karena itu, penting untuk menjaga pikiran tetap positif dan tidak mudah terpengaruh oleh ketakutan yang belum terbukti secara ilmiah. Beberapa cara untuk melatih pikiran agar lebih positif adalah:

  • Menghindari terlalu sering mendengar atau membaca cerita-cerita menyeramkan tentang santet yang dapat memicu kecemasan.
  • Melatih ketenangan dengan teknik meditasi, pernapasan dalam, atau relaksasi.
  • Mengubah pola pikir menjadi lebih rasional dengan mempertanyakan apakah gejala yang dialami benar-benar berasal dari santet atau bisa dijelaskan dengan alasan lain.

Berkonsultasi dengan Tenaga Medis Jika Mengalami Gejala Aneh yang Tidak Dapat Dijelaskan

Banyak kasus yang dikira sebagai akibat santet sebenarnya merupakan gangguan kesehatan yang belum terdiagnosis dengan baik. Oleh karena itu, jika seseorang mengalami gejala fisik atau mental yang aneh, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter atau tenaga medis profesional. Beberapa penyakit yang sering dikaitkan dengan santet, tetapi sebenarnya bisa dijelaskan secara medis, antara lain:

  • Gangguan psikosomatis, di mana stres dan kecemasan memicu munculnya gejala fisik seperti nyeri atau sesak napas.
  • Gangguan saraf atau autoimun, yang bisa menyebabkan kelemahan tubuh, kesemutan, atau kejang aneh.
  • Gangguan tidur seperti sleep paralysis, yang sering dikira sebagai gangguan gaib karena munculnya sensasi tercekik atau melihat bayangan hitam.
  • Keracunan atau gangguan pencernaan, yang kadang menyebabkan rasa sakit mendadak atau mual yang sulit dijelaskan.

Menggunakan Pendekatan Psikologis untuk Memahami Ketakutan terhadap Santet

Ketakutan terhadap santet sering kali berakar pada faktor psikologis dan budaya. Dengan memahami hal ini, seseorang bisa lebih mudah mengatasi rasa takutnya dan berpikir lebih logis. Beberapa langkah yang bisa diambil adalah:

  • Mengenali pola pikir yang berlebihan atau irasional terkait santet dan mencoba menghadapinya dengan lebih tenang.
  • Mencari dukungan dari psikolog atau terapis jika rasa takut sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
  • Berbicara dengan orang yang lebih rasional, seperti ahli kesehatan atau tokoh agama yang berpikiran terbuka, untuk mendapatkan sudut pandang lain.
  • Menghindari dukun atau paranormal yang justru bisa memperkuat sugesti negatif dengan memberikan informasi yang menakutkan tanpa dasar ilmiah.

Kesimpulan

Santet adalah fenomena yang masih menjadi perdebatan dan misteri bagi banyak orang. Di berbagai budaya, kisah-kisah tentang santet telah diwariskan secara turun-temurun, sering kali disertai dengan kesaksian individu yang mengaku mengalaminya secara langsung. Beberapa orang percaya bahwa santet adalah bentuk ilmu hitam yang dapat membahayakan seseorang dari jarak jauh, sementara yang lain melihatnya sebagai hasil dari sugesti atau faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang.

Meskipun banyak laporan dan pengalaman pribadi yang mendukung keberadaan santet, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang benar-benar bisa membuktikan bahwa fenomena ini nyata dalam pengertian yang dapat diukur atau dijelaskan secara sains. Ilmu pengetahuan modern lebih cenderung menghubungkan kasus-kasus yang dikaitkan dengan santet dengan faktor medis, psikologis, atau bahkan efek sosial dan budaya. Gangguan psikosomatis, efek nocebo, serta kondisi medis tertentu sering kali menjadi penjelasan logis atas gejala yang dialami oleh seseorang yang merasa terkena santet.

Terlepas dari benar atau tidaknya santet, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah tetap berpikir rasional sambil menghormati kepercayaan budaya yang ada. Menghindari kepanikan, mencari penjelasan yang logis, dan tetap menjaga kesehatan fisik serta mental adalah langkah yang lebih bijak daripada terjebak dalam ketakutan yang tidak berdasar. Jika seseorang mengalami gejala yang mencurigakan, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis atau psikolog terlebih dahulu sebelum menyimpulkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh santet.

Yang terpenting, jangan biarkan rasa takut akan santet mengendalikan hidup kita. Keyakinan yang berlebihan terhadap hal-hal mistis bisa membuat seseorang semakin rentan terhadap sugesti negatif, yang justru dapat memperparah kondisi fisik maupun mental. Dengan pola pikir yang seimbang antara spiritualitas dan rasionalitas, seseorang dapat menghadapi fenomena ini dengan lebih tenang dan bijaksana.


Daftar Pustaka

Buku & Jurnal

WHO (World Health Organization). (2020). Mental Health and Psychosomatic Disorders. Diakses dari: https://www.who.int

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Gangguan Psikosomatis dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan. Diakses dari: https://www.kemkes.go.id

Kompas.com. (2023). Mitos dan Fakta Santet dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan. Diakses dari: https://www.kompas.com

BBC Indonesia. (2021). Santet: Kepercayaan Mistis dan Perspektif Medis. Diakses dari: https://www.bbc.com/indonesia

National Geographic Indonesia. (2020). Kepercayaan terhadap Ilmu Hitam dalam Budaya Nusantara. Diakses dari: https://www.nationalgeographic.co.id

MUI (Majelis Ulama Indonesia). (2019). Hukum Santet dalam Islam dan Cara Menangkalnya. Diakses dari: https://mui.or.id

Harvard Medical School. (2022). The Nocebo Effect: How Negative Expectations Influence Health. Diakses dari: https://www.health.harvard.edu

Psychology Today. (2021). How Superstitions and Cultural Beliefs Affect Mental Health. Diakses dari: https://www.psychologytoday.com

Liputan6.com. (2023). Fenomena Santet: Mitos, Fakta, dan Perspektif Ilmiah. Diakses dari: https://www.liputan6.com

Jurnal UGM. (2020). Santet dalam Perspektif Sosiologi dan Antropologi Masyarakat Indonesia. Diakses dari: https://journal.ugm.ac.id


Hak Cipta

Nomor Seri: 26383062682636680
Penulis: Mochamad Rifaldo Efendi
Type: Article
Publish: Februari 2025, Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.
Hak cipta © 2025 oleh Rivaldyalfi.com.

*Tidak ada bagian dari artikel ini yang boleh diperbanyak, disimpan dalam sistem pencarian, atau ditransmisikan dalam bentuk apa pun atau dengan cara apa pun, baik elektronik, mekanis, fotokopi, perekaman, atau lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.
Dengan pengetahuan kamu bisa menjelajahi dunia tanpa harus bangkit dari tempat duduk

Oops! Kamu Sedang Offline!

Sepertinya Kamu menghadapi gangguan jaringan.
Atau periksa koneksi jaringan Kamu.